facebook-img
Temarram Ajak Lo Menyusuri Reruntuhan Kehidupan Lewat Antara Angkara

Temarram Ajak Lo Menyusuri Reruntuhan Kehidupan Lewat Antara Angkara

Musik

September 21, 2026 | views : 0

Ada kalanya hidup nggak benar-benar hancur dalam satu malam. Semuanya terjadi pelan-pelan. Dari mimpi yang mulai ditinggalkan, ambisi yang malah bikin diri sendiri kelelahan, sampai hubungan yang akhirnya cuma menyisakan penyesalan.

Hal semacam itu yang coba dirangkum Temarram lewat album penuh perdana mereka, Antara Angkara. Dirilis pada 11 September 2026 lalu, album ini jadi perjalanan pertama unit synthwave/darkwave/post-punk tersebut dalam merangkai delapan lagu tentang kehidupan, ketiadaan, harapan, sampai penyesalan.

Temarram sendiri terbentuk pada 2021 lalu dan digawangi Regga Prakarso (gitar dan programmed synthesizer), Sherina Redjo (vokal), serta Tanthowi (bass). Sebelum akhirnya sampai di Antara Angkara, mereka sudah lebih dulu merilis EP Montase pada 2022, Selubung Abadi pada 2023, dan single “Pusara” pada 2025.

Kalau “Pusara” jadi pintu masuknya, Antara Angkara terasa seperti perjalanan yang jauh lebih dalam. Bukan sekadar kumpulan lagu gelap dengan musik yang muram, tapi semacam lorong tempat berbagai sisi kehidupan yang berantakan dikumpulkan satu per satu.

Perjalanan itu dibuka lewat “Dan Kau Terlunta”, yang membawa cerita tentang ambisi dan bagaimana sesuatu yang awalnya ingin dikejar justru perlahan menghancurkan kehidupan. Setelah itu ada “Reruntuh”, lagu yang terasa dekat buat siapa pun yang pernah punya mimpi besar, tapi akhirnya harus berhadapan dengan rutinitas sampai lupa kapan terakhir kali benar-benar mengejar mimpi tersebut.

Masuk ke “Aksioma” yang menghadirkan Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass, suasananya berubah lebih panas. Amarah dari sebuah hubungan dan perpisahan dibawa lewat energi vokal yang lebih eksplosif. Sementara “Pusara” mengajak pendengar melihat ke dalam diri sendiri dan menyadari bahwa terkadang petaka yang paling sulit dilepaskan justru berasal dari sesuatu yang kita ciptakan sendiri.

Kemudian ada “Tak Tergenggam”, yang membawa pertanyaan lain tentang kehidupan dan rasa memiliki. Nggak semua hal bisa dimiliki semua orang. Ada yang harus diterima sebagai sesuatu yang memang berada di luar genggaman.

Di tengah segala keruntuhan itu, “Semesta Semesta” hadir seperti sedikit cahaya. Sebuah harapan kecil yang masih tersisa ketika hampir semuanya terasa berantakan. Tapi Temarram nggak membiarkan pendengarnya terlalu lama berada di sana. “Afeksi dan Mati” bersama Otong Koil kembali membawa cerita ke tempat yang lebih getir. Karakter vokal Otong yang khas ikut mempertebal atmosfer mencekam lagu ini, sebelum album akhirnya ditutup lewat “Pengakhiran Permulaan”.

Dari judulnya saja, lagu terakhir ini sudah terasa seperti sebuah kesimpulan bahwa akhir nggak selalu berarti benar-benar selesai. Ada sesuatu yang baru setelahnya. Setelah semua yang runtuh, mungkin memang yang tersisa bukan jawaban, tapi keberanian untuk memulai lagi.

Di balik proses kreatifnya, Temarram menggandeng Pandu Fuzztoni sebagai produser sekaligus kolaborator untuk menerjemahkan berbagai ide di album ini. Keterlibatannya nggak berhenti di balik meja produksi. Pandu juga mengisi gitar di “Pusara” dan “Aksioma”, drum di “Aksioma” dan “Semesta Semesta”, backing vocal di “Pusara”, serta gitar penuh noise di “Pengakhiran Permulaan”. Sementara Gerry Lainil Fauzi dan Otong Koil masing-masing memberikan kontribusi vokal di “Aksioma” dan “Afeksi dan Mati”. Dengan karakter yang berbeda-beda, kehadiran para kolaborator ini ikut membuka ruang eksplorasi baru tanpa membuat Temarram kehilangan identitasnya.

Pada akhirnya, Antara Angkara bukan album yang ngajak lo melupakan segala sesuatu yang berantakan. Justru sebaliknya, album ini seperti ngajak lo duduk sebentar di tengah reruntuhan dan melihat lagi apa saja yang sudah dilewati. Tentang ambisi yang pernah salah arah, mimpi yang harus ditinggalkan, hubungan yang berakhir, rasa kehilangan, sampai harapan kecil yang ternyata masih tersisa.

Jadi, kalau belakangan hidup terasa kayak berantakan ke mana-mana, mungkin Antara Angkara bisa jadi teman yang pas buat menemani perjalanan itu. Selamat tenggelam dalam Temarram!

Cek Berita Lainnya
hiasan-kanan-bawah

Tentang artikel ini

Artikel ini masuk kategori Musik di EVO Up To Date, kanal berita dan cerita Evoria seputar musik, film, seni, desain, fashion, dan gaya hidup anak muda Indonesia.

Kami menulis soal rilisan baru, tren yang lagi ramai, dan hal-hal yang sering terlewat dari obrolan sehari-hari — dari kenapa sebuah lagu bisa terus terngiang sampai apa yang terjadi di balik layar sebuah karya. Tidak semuanya berat, dan memang tidak dimaksudkan begitu.

Setiap artikel yang lo baca di Evoria menambah poin yang bisa ditukar dengan merchandise dan hadiah lain. Telusuri artikel lain di kategori yang sama, atau lihat seluruh kabar terbaru di halaman EVO Up To Date.

Banner

PERINGATAN:

KARENA MEROKOK, SAYA TERKENA KANGKER TENGOROKAN

LAYANAN BERHENTI MEROKOK (0800-177-6565)

Banner

Next on queue

I Need YouLightspace05:21
Kita Rayakan PerpisahannyaDiffa Chandra05:58
Di Balik RealitaSnapburn04:30
Pluviophile SongMichelle Limanjae03:29
Crystal VisionSandstrom of Youth03:32
Debar AsmaraKidunghara03:47
This Is UnfairnessElin Henreitha03:49
UlemanBasajan02:33
RinduDaniel Rumbekwan03:15
OutlierJoy Manifesto03:56
Ia Menuruni Bukit ItuBatu Besi Pasir04:11
Aku dan MusikJuzzer03:03
Asmara AdindaLyft04:35
Love ParadoxAlvin Wardiman04:50
Stay In LineJuicebox03:50
Is It Worth? (It Ain't)Salim Lubis03:40
Kisah SehariJelaga02:56
Cover art for I Need You

I Need You

Lightspace