facebook-img
Kenapa Wajah di Lukisan Sering Ga Tersenyum?

Kenapa Wajah di Lukisan Sering Ga Tersenyum?

Art

Agustus 26, 2025 | views : 141

Kalau kalian main ke museum atau sekadar lihat buku seni, pasti ada satu hal yang bikin penasaran kaya kenapa hampir semua wajah di lukisan klasik keliatan serius? Jarang banget ada yang tersenyum lebar kaya kita kalau lagi diffotooto. Padahal kalo dipikir-pikir, senyum kan ekspresi yang natural banget ditunjukin ketika mengabadikan suatu moment.

Buat mata kalian yang terbiasa sama foto modern mungkin melihat lukisan penuh wajah datar bisa terasa kaku banget. Apalagi di era media sosial kaya sekarang, senyum dan ekspresi ceria jadi hal yang hampir wajib biar foto terlihat hidup. Jadi wajar kalo kalian bertanya-tanya, kok dulu justru ekspresi datar yang lebih sering dipilih?

Jawabannya ternyata ga sesederhana “orang dulu jarang senyum” loh. Ada banyak faktor yang bikin wajah serius lebih dominan digunakan pelukis zaman dulu.

Standard Keanggunan Zaman Dulu
-

Di masa lalu terutama bagi kalangan bangsawan atau orang kaya, wajah serius dianggap lebih terhormat dan berwibawa. Senyum lebar justru bisa dianggap kurang sopan atau bahkan kasih kesan derajat yang rendah. Jadi kalau ada potret keluarga kerajaan atau pejabat penting, mereka pasti lebih memilih ekspresi anggun dibanding terlihat terlalu santai atau tersenyum.

 

Hal ini mirip kayak standar kecantikan yang berubah-ubah tiap zaman. Kalau sekarang orang senang terlihat ekspresif, dulu justru ketenangan dan wibawa yang jadi nilai tolak ukurnya. Makanya, ekspresi datar lebih sering jadi pilihan untuk menunjukkan status seseorang yang dilukis.

 

Lukisan Bukan Seperti Kamera
-

Kalo foto kan tinggal klik sekali langsung jadi, nah melukis itu butuh waktu lama. Bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Bayangin kalau model disuruh terus senyum lebar selama itu, pasti pegel banget dan hasilnya malah kaku karena terlalu dipaksain. Oleh sebab itu, seniman lebih suka menggambarkan ekspresi netral supaya hasilnya tetap stabil dan ga berubah-ubah.

 

Selain itu teknik melukis juga lebih cocok untuk sesuatu yang punya vibes ketenangan dibanding gerakan atau ekspresi yang dinamis. Jadi bukan karena senimannya ga bisa menggambar senyum, tapi lebih karena senyum susah dipertahankan sebagai pose.

Makna Simbolis di Balik Wajah Serius
-

Bukan sembarangan kasih ekspresi datar aja, sebenarnya artinya lebih dalam juga kalo dipelajari. Wajah yang ekspresinya datar ini sering dianggap abadi karena gak terlihat menunjukan suasana hati tertentu, makanya lukisan tersebut bisa relevan walaupun dilihat ratusan tahun kemudian setelah dibuat.

 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya juga, ekspresi datar atau serius itu bisa menunjukkan status sosial orang yang dilukis. Jadi orang-orang di masa mendatang yang lihat lukisan itu bisa tau seberapa tinggi status sosial suatu tokoh dari lukisan aja

 

Tapi Bukan Berarti Gak Ada yang Senyum
-

Meskipun jarang, bukan berarti gak ada lukisan tersenyum dari zaman dulu ya. Ada juga kok lukisan yang menampilkan senyum. Salah satu yang paling terkenal tentu aja Mona Lisa dengan senyum tipis misteriusnya. Ada juga potret anak-anak, pesta rakyat, atau adegan kehidupan sehari-hari yang lebih ekspresif. Senyum memang bukan hal yang terlarang, cuma porsinya aja lebih sedikit.

 

Jadi wajah-wajah serius di lukisan klasik sebenarnya lebih banyak karena tuntutan zaman, teknik, dan makna simbolis. Kalau dilihat dari kacamata kita sekarang mungkin terasa kurang lively, tapi buat orang dulu, justru itulah cara terbaik untuk tampil elegan dan dikenang selamanya.

 

Nicholas Jeeves seorang dosen di Cambridge School of Art juga pernah bilang dalam essay nya kalo ada 2 tipe lukisan, yaitu ekspresi serius dan senyum tipis, tapi Nicholas sendiri prefer pakai tipe ekspresi serius untuk orang-orang profesional

 

Jika kalian suka bahas topik musik, tempat hangout seru, lifestyle, dan segala hal yang nyambung banget sama vibe Gen Z dan millennial, langsung aja cek blog evoria.id untuk konten-konten yang asik dan relatable lainnya.

 

Cek Berita Lainnya
hiasan-kanan-bawah

Tentang artikel ini

Artikel ini masuk kategori Art di EVO Up To Date, kanal berita dan cerita Evoria seputar musik, film, seni, desain, fashion, dan gaya hidup anak muda Indonesia.

Kami menulis soal rilisan baru, tren yang lagi ramai, dan hal-hal yang sering terlewat dari obrolan sehari-hari — dari kenapa sebuah lagu bisa terus terngiang sampai apa yang terjadi di balik layar sebuah karya. Tidak semuanya berat, dan memang tidak dimaksudkan begitu.

Setiap artikel yang lo baca di Evoria menambah poin yang bisa ditukar dengan merchandise dan hadiah lain. Telusuri artikel lain di kategori yang sama, atau lihat seluruh kabar terbaru di halaman EVO Up To Date.

Banner

PERINGATAN:

KARENA MEROKOK, SAYA TERKENA KANGKER TENGOROKAN

LAYANAN BERHENTI MEROKOK (0800-177-6565)

Banner

Next on queue

I Need YouLightspace05:21
Kita Rayakan PerpisahannyaDiffa Chandra05:58
Di Balik RealitaSnapburn04:30
Pluviophile SongMichelle Limanjae03:29
Crystal VisionSandstrom of Youth03:32
Debar AsmaraKidunghara03:47
This Is UnfairnessElin Henreitha03:49
UlemanBasajan02:33
RinduDaniel Rumbekwan03:15
OutlierJoy Manifesto03:56
Ia Menuruni Bukit ItuBatu Besi Pasir04:11
Aku dan MusikJuzzer03:03
Asmara AdindaLyft04:35
Love ParadoxAlvin Wardiman04:50
Stay In LineJuicebox03:50
Is It Worth? (It Ain't)Salim Lubis03:40
Kisah SehariJelaga02:56
Cover art for I Need You

I Need You

Lightspace