
Kalian Tau Ga Kalo Awalnya Film Dirilis Tanpa Editing?
September 30, 2025 | views : 275
Kalo kita nonton film zaman sekarang, udah biasa banget lihat kamera muter-muter, pindah scene secara cepat, atau adegan yang lompat sana lompat sini. Tapi tau ga sih kalo dulu film pertama kali muncul itu plain banget? Kamera diem aja, ga gerak sama sekali, dan semua adegannya kaya orang lagi nonton teater dari kursi penonton. Jadi ya satu angle doang, bener-bener flat.
Bayangin aja, dulu film tuh mirip banget sama pentas drama yang direkam. Ga ada potongan gambar ke ekspresi close-up, gak ada pindah ke lokasi lain, apalagi efek-efek keren. Jadi kalo ada adegan orang jalan keluar ruangan, ya penonton cuma bisa lihat dia beneran jalan keluar sampai hilang dari frame. Simpel banget kan?
Nah baru setelah ada ide untuk memotong film terus nyambungin lagi, barulah dunia perfilman jadi lebih seru. Editing ini bikin film lebih emosional, dan pastinya jauh lebih menarik buat ditonton. Terus, sejak kapan sih film mulai diedit?
Awal Mula Film Diedit

Salah satu momen penting dalam sejarah editing film muncul lewat karya D. W. Griffith yang berjudul The Birth of a Nation (1915). Film ini dianggap revolusioner karena Griffith berani mainin teknik editing buat bikin cerita lebih hidup. Dia pakai cross-cutting alias adegan loncat-loncat antara dua peristiwa yang terjadi di tempat berbeda, tapi ditampilkan seakan-akan berlangsung barengan. Itu dulu keren banget karena orang-orang belum pernah lihat model penyajian cerita kaya gitu. D. W. Griffith sendiri juga potong film nya satu persatu dan menggabungkan nya sendiri untuk hasil editing ini loh.
Film The Birth of a Nation ini emang kontroversial karena isinya banyak hal yang problematik dan terkesan rasis. Tapi dari sisi teknis, The Birth of a Nation membuka jalan buat cara bercerita baru di dunia film.
Respon Audiens Nonton Film yang Diedit

Waktu pertama kali muncul, penonton langsung kaget sekaligus kagum. Mereka ga nyangka film bisa disajikan seperti yang dibuat D. W. Griffith. Bayangin aja, sebelumnya orang nonton film ya sekadar lihat adegan panjang tanpa potongan. Begitu ada editing, penonton jadi bisa merasa tegang, deg-degan, dan lebih nge-feel saat nonton.
Reaksi ini bikin industri film makin semangat mengeksplorasi teknik editing lain. Setelah itu mulai deh muncul montage, transisi kreatif, sampai cara mainin kecepatan gambar.
Dampaknya Bagi Industri Perfilman

Sejak saat itu, editing jadi bagian penting dalam produksi film. Sutradara ga cuma mikirin adegan apa yang mau di-shoot, tapi juga gimana nanti hasil potongan-potongannya biar bisa ngasih emosi yang tepat. Bahkan, banyak sutradara gede yang bilang kalo film sebenarnya diciptakan di ruang editing, bukan saat syuting. Kaya kata sutradara Stanley Kubrick, “I love editing. I think I like it more than any other phase of filmmaking. If I wanted to be frivolous, I might say that everything else is just waiting for the editing room.”
Adanya editing pun membuat berbagai genre mulai bermunculan di perfilman seperti thriller yang bikin audiens degdegan pas nonton. Tanpa editing mungkin film ga akan beda jauh dengan teater yang direkam.
Rekomendasi Film yang Dapat Oscar “Best Editing”

Kalo mau lihat gimana pentingnya editing, coba cek film-film yang pernah menang Oscar kategori Best Editing. Misalnya Bohemian Rhapsody (2018) yang sempat viral karena editingnya rame banget dibahas di internet. Terlepas dari pro-kontranya, film itu berhasil kasih liat betapa editing bisa jadi pusat perhatian orang banyak.
Film legendaris lain kayak Mad Max: Fury Road (2015) juga menang di kategori ini. Wajar aja, karena editingnya bener-bener intens. Jadi kalo penasaran gimana editing bisa ngubah pengalaman nonton, film-film pemenang Oscar di kategori ini wajib banget kalian tonton untuk jadi perbandingan.
Adanya editing bikin nonton film punya experience yang jauh lebih menyenangkan. Penonton bisa merasa deg-degan, terbawa suasana, bahkan lupa waktu gara-gara alur yang dibentuk dari potongan-potongan gambar. Editing lah yang bikin film punya mood dan makna lebih dalam. Jadi kalo nonton film selain fokus ke alur ceritanya, coba untuk perhatikan editing nya juga ya mulai sekarang.
Jika kalian suka bahas topik musik, tempat hangout seru, lifestyle, dan segala hal yang nyambung banget sama vibe Gen Z dan millennial, langsung aja cek blog evoria.id untuk konten-konten yang asik dan relatable lainnya.

Tentang artikel ini
Artikel ini masuk kategori Film di EVO Up To Date, kanal berita dan cerita Evoria seputar musik, film, seni, desain, fashion, dan gaya hidup anak muda Indonesia.
Kami menulis soal rilisan baru, tren yang lagi ramai, dan hal-hal yang sering terlewat dari obrolan sehari-hari — dari kenapa sebuah lagu bisa terus terngiang sampai apa yang terjadi di balik layar sebuah karya. Tidak semuanya berat, dan memang tidak dimaksudkan begitu.
Setiap artikel yang lo baca di Evoria menambah poin yang bisa ditukar dengan merchandise dan hadiah lain. Telusuri artikel lain di kategori yang sama, atau lihat seluruh kabar terbaru di halaman EVO Up To Date.


