Gyaru Lagi Tren, Gaya Bold Jepang Ini Nggak Cuma Soal Makeup
September 30, 2026 | views : 1
Kalau lo lihat cewek dengan kulit tan, rambut terang, eyeliner tebal, bulu mata super lentik, dan outfit yang cukup berani, mungkin yang kepikiran adalah tren Y2K atau fashion Jepang. Tapi kalau gaya seperti ini dibawa mundur ke Jepang era 90-an, ada satu nama yang nggak bisa dilewatkan, yaitu Gyaru.
Gyaru bukan sekadar gaya makeup atau cara berpakaian. Subkultur ini berkembang sebagai salah satu bentuk ekspresi anak muda Jepang yang ingin tampil beda dari standar kecantikan yang saat itu lebih identik dengan kulit cerah, rambut hitam, dan makeup natural.
Lantas, kenapa sampai sengaja bikin kulit terlihat lebih gelap dan mata dibuat super bold? Yuk, kita bahas!
Gyaru dan Keinginan Buat Tampil Beda
Istilah gyaru berasal dari kata bahasa Inggris gal atau girl. Gaya ini mulai berkembang di Jepang pada awal 1990-an dan kemudian semakin populer di kalangan anak muda, terutama di kawasan Shibuya.
Pada awalnya, salah satu bentuknya dikenal sebagai kogyaru. Para siswi memodifikasi seragam sekolah dengan rok yang lebih pendek, kaus kaki longgar, dan berbagai aksesori yang membuat penampilan mereka berbeda dari aturan berpakaian yang lebih konvensional.
Seiring waktu, gaya ini berkembang semakin jauh. Rambut mulai diwarnai, pakaian dibuat lebih mencolok, makeup semakin tebal, dan kulit yang kecokelatan justru menjadi bagian dari look yang dicari. Jadi, kalau standar kecantikan saat itu bilang harus tampil kalem dan natural, gyaru justru datang dengan energi “kenapa harus begitu?”
Terus, Kenapa Kulitnya Dibikin Tan?
Nah, bagian ini yang paling bikin orang bertanya-tanya. Di Jepang, standar kecantikan tradisional cukup lama mengasosiasikan kulit cerah dengan penampilan yang dianggap cantik. Gyaru mengambil arah sebaliknya dengan membuat kulit terlihat lebih gelap melalui tanning atau makeup.
Salah satu perkembangan paling ekstrem dari gaya ini kemudian muncul lewat ganguro, yang dikenal dengan kulit jauh lebih gelap, rambut yang diputihkan, serta makeup dengan kontras tinggi.
Alih-alih berusaha terlihat seperti standar kecantikan yang sudah ada, tampilan ini justru sengaja dibuat mencolok. Kulit tan dipadukan dengan eyeliner hitam, eyeshadow terang, dan elemen makeup lain yang bikin wajah terlihat lebih dramatis. Makanya, warna kulit di sini bukan sekadar soal pengen kelihatan habis liburan ke pantai. Ada konteks budaya di balik pilihan visual tersebut.
Kenapa Eyeliner-nya Tebal Banget?
Kalau kulit dibuat lebih gelap, makeup mata yang kontras juga jadi semakin kelihatan. Eyeliner hitam, bulu mata palsu, eyeshadow dengan warna terang, sampai lensa kontak berwarna kemudian menjadi bagian dari tampilan gyaru. Tujuannya bukan menciptakan makeup yang terlihat barely there, tapi justru membuat mata terlihat lebih besar, tegas, dan dramatis.
Semakin berkembang, gaya ini juga melahirkan berbagai subgaya dengan karakter masing-masing. Ada kogyaru, ganguro, onee-gyaru, hime-gyaru, hingga rokku-gyaru. Jadi sebenarnya nggak semua gyaru punya tampilan yang sama. Yang menyatukan mereka lebih kepada keberanian berekspresi dan gaya yang sengaja dibuat lebih mencolok.
Dari Shibuya, Jadi Fenomena Fashion
Shibuya punya peran penting dalam perkembangan gyaru. Kawasan ini menjadi salah satu pusat fashion anak muda Jepang, termasuk dengan hadirnya pusat perbelanjaan seperti Shibuya 109 yang kemudian lekat dengan berbagai tren gyaru.
Majalah fashion dan komunitas anak muda juga ikut membantu menyebarkan gaya tersebut. Dari yang awalnya terlihat seperti gaya jalanan, gyaru berkembang menjadi subkultur dengan bahasa visual, pilihan fashion, makeup, hingga komunitasnya sendiri.
Memasuki akhir 1990-an, tampilannya bahkan semakin ekstrem. Gaya ganguro membawa kulit tan ke tingkat yang lebih gelap, makeup semakin kontras, dan warna rambut semakin berani. Intinya, makin susah buat nggak notice.
Jadi, Gyaru Itu Cuma Soal Penampilan?
Nggak sesederhana itu. Di balik eyeliner tebal, kulit tan, rambut terang, dan outfit yang mencolok, gyaru berkembang sebagai cara anak muda untuk mengekspresikan diri dan keluar dari pakem kecantikan yang dianggap konvensional.
Makanya, ketika gaya ini kembali muncul di berbagai konten fashion dan acara bertema Y2K sekarang, yang muncul bukan cuma nostalgia terhadap makeup dan outfit era 2000-an. Ada juga ketertarikan terhadap karakter gyaru yang dari awal memang berani tampil beda.
Salah satunya terlihat dari pesta ulang tahun Hanum Mega yang digelar pada 20 September 2026 lalu, dengan tema Y2K Gyaru. Para tamu hadir dengan outfit bermotif leopard, aksen bulu, leg warmers, serta makeup mata yang dramatis.
Jadi, kalau suatu saat lo lihat makeup dengan eyeliner super tebal, kulit tan, rambut bervolume, dan outfit yang kelihatan extra, jangan buru-buru menganggap itu cuma gaya Y2K biasa. Bisa jadi lo lagi melihat warisan dari salah satu subkultur fashion Jepang yang sejak era 90-an memang punya satu prinsip sederhana, kalau bisa tampil biasa, kenapa harus biasa?
Cek Berita Lainnya
Tentang artikel ini
Artikel ini masuk kategori Fashion di EVO Up To Date, kanal berita dan cerita Evoria seputar musik, film, seni, desain, fashion, dan gaya hidup anak muda Indonesia.
Kami menulis soal rilisan baru, tren yang lagi ramai, dan hal-hal yang sering terlewat dari obrolan sehari-hari — dari kenapa sebuah lagu bisa terus terngiang sampai apa yang terjadi di balik layar sebuah karya. Tidak semuanya berat, dan memang tidak dimaksudkan begitu.
Setiap artikel yang lo baca di Evoria menambah poin yang bisa ditukar dengan merchandise dan hadiah lain. Telusuri artikel lain di kategori yang sama, atau lihat seluruh kabar terbaru di halaman EVO Up To Date.


