
Grafiti itu Seni atau Vandalisme?
September 17, 2025 | views : 124
Kalian pasti sering melihat grafiti di jalanan kan? Entah itu di tembok trotoar, di dinding halte, atau malah di terowongan? Warnanya colorful dan punya bentuk atau gambar yang gak biasa, terus kalo lihat hal itu, mungkin kalian akan mikir begini, “ini keren sih, tapi bikin kotor ga ya?” Kadang bikin happy pas lihat, kadang bikin kesal juga karena ngerusak pemandangan.
Menurut Mary-Ann & Co., banyak orang yang ngalamin dilema ini. Ada yang bilang grafiti itu seni, tapi ga sedikit juga yang langsung cap sebagai vandalisme. Jadi ya memang ada opini berbeda yang akan kalian dengar soal coret-coretan di tembok jalan ini.
Di sisi lain, grafiti juga dianggap sebagai bentuk ekspresi publik yang kuat. Bahkan beberapa seniman seperti Diego Gonzalez bilang, “I believe that art can change the world, and images can be more powerful than words” alias bisa dibilang kalo Diego percaya grafiti yang dianggap vandalisme pun pasti punya power untuk mengubah sesuatu nih.
Asal Usul Grafiti

Grafiti ternyata bukan hal baru, lho. Sejak zaman Romawi kuno, orang udah suka coret-coret dinding. Ada yang nulis nama, pesan-pesan, bahkan kritik ke penguasa. Jadi jangan bayangin grafiti itu baru muncul bareng cat semprot di era modern.
Lalu di tahun 1970-an, grafiti banyak ditemukan di kota New York nih. Anak muda di New York mulai bikin grafiti di beberapa lokasi kaya dinding kota, kereta bawah tanah, sampai jembatan. Awalnya emang cuma tulisan aja tapi lama-lama visualnya berkembang dan jadi lebih artistik.
Grafiti sebagai Bentuk Ekspresi Seni

Banyak orang lupa kalau grafiti juga bisa jadi seni. Warna dan komposisinya yang unik, sering punya pesan di baliknya. Misalnya kritik sosial, isu lingkungan, atau sekadar curhat soal kehidupan aja.
Grafiti bikin seni jadi lebih “demokratis”. Kalau biasanya seni harus masuk galeri biar dilihat orang, grafiti bisa langsung diakses semua orang di jalan. Dari yang lagi buru-buru, naik motor, sampai yang cuma duduk nongkrong di warung kopi.
Kalo biasanya seni punya kesan yang mahal karena masuk galeri untuk bisa dilihat orang, grafiti bisa diakses semua orang di jalan. Tapi bukan artinya grafiti kalah dari seni lain, buktinya ada seniman yang berhasil bikin grafiti jadi karya yang dikenal dunia juga seperti Bansky.
Grafiti Dipandang sebagai Vandalisme

Tapi di sisi lain, ga semua grafiti buat orang seneng. Bayangin tembok rumah kalian yang baru dicat, tiba-tiba ada coretan yang bahkan ga izin dulu ke kalian, belom lagi image coretan di dinding kadang buat kesan kumuh, pasti kesel kan ya?
Itu sebabnya grafiti sering dicap vandalisme. Bukan cuma soal estetika, tapi juga biaya. Pemerintah kota di berbagai negara harus keluarin miliaran rupiah buat ngecat ulang dinding atau nyuci gerbong kereta yang dicoretin. Di Paris misalnya, anggarannya sampai €6 juta per tahun cuma buat perang lawan grafiti ilegal.
Grafiti Terkenal yang Punya Dampak

Meski banyak yang anggap negatif, ada juga grafiti yang justru bikin kota makin dikenal. Contohnya mural Banksy di Bethlehem yang bergambar anak kecil main balon di dekat tembok pemisah Palestina-Israel. Karya itu bikin seluruh dunia melek soal konflik yang lagi terjadi.
Di Indonesia juga ada contohnya. Mural-mural di Yogyakarta misalnya, bukan cuma mempercantik kota, tapi juga jadi media kritik sosial. Bahkan banyak wisatawan sengaja hunting foto mural di sana. Jadi ya, grafiti bisa juga bawa dampak positif asal konteksnya pas aja.
Seniman Grafiti Asal Indonesia yang Mendunia

Meskipun populer di New York, tapi bukan berarti tidak ada seniman asal Indonesia yang yang terjun ke dunia grafiti. Salah satunya adalah Tuts yang sudah terkenal di luar negeri. Tuts atau yang biasa dipanggil Tutu mulanya mengenal grafiti saat bersekolah di salah satu sekolah internasional di Pondok Indah dulu, seiring berjalannya waktu, Tutu terus berkarya dan membuat grafiti hingga ke Taiwan dan New Zealand.
Ada juga Darbotz yang ga kalah terkenal di luar negeri. Saking khas nya kalian yang lihat grafiti karya Darbotz pasti bisa langsung ngenalin pattern monster ala Darbotz dan warna khas hitam-putih yang biasa dipakai deh. Darbotz juga sering kali kerjasama dengan beberapa instalasi public space, loh. Keren banget kan? Jadi ga terkesan vandalisme.
Jadi Seni atau Vandalisme Sih?

Kalau ditanya “grafiti itu seni atau vandalisme?”, jawabannya… dua-duanya bisa. Kalau grafiti dibuat sembarangan di tempat yang bukan milik sendiri, ya jelas jatuhnya vandalisme. Tapi kalau dibuat dengan pesan yang kuat dan tempat yang tepat, bisa jadi karya seni yang keren banget.
Beberapa kota sekarang udah mulai cari jalan tengah. Ada area khusus yang boleh dipakai buat grafiti, bahkan ada festival mural resmi juga di beberapa daerah. Jadi seniman tetap bisa berekspresi, tapi ga merugikan orang lain.
Jika kalian suka bahas topik musik, tempat hangout seru, lifestyle, dan segala hal yang nyambung banget sama vibe Gen Z dan millennial, langsung aja cek blog evoria.id untuk konten-konten yang asik dan relatable lainnya.

Tentang artikel ini
Artikel ini masuk kategori Art di EVO Up To Date, kanal berita dan cerita Evoria seputar musik, film, seni, desain, fashion, dan gaya hidup anak muda Indonesia.
Kami menulis soal rilisan baru, tren yang lagi ramai, dan hal-hal yang sering terlewat dari obrolan sehari-hari — dari kenapa sebuah lagu bisa terus terngiang sampai apa yang terjadi di balik layar sebuah karya. Tidak semuanya berat, dan memang tidak dimaksudkan begitu.
Setiap artikel yang lo baca di Evoria menambah poin yang bisa ditukar dengan merchandise dan hadiah lain. Telusuri artikel lain di kategori yang sama, atau lihat seluruh kabar terbaru di halaman EVO Up To Date.


